Tuesday, December 15, 2015
Thursday, November 26, 2015
Halo!
Oh haaaiii pembaca blog saya (yang entah siapa) hehe. Sudah 4 bulan kalau saya tidak salah hitung, saya tidak menyentuh blog lagi. Bukan karena saya sedang tak saling sapa dengan blog ini. Tapi jujur saja, saya sedang banyak tugas di perkuliahan saya yang sudah menginjak semester 3 ini dan juga ada alasan lain...
Fiuh... melelahkan memang. Kalau ada dari kalian para pembaca ingin membantu saya, dengan senang hati saya akan menerimanya :D
Tetapi, di sela-sela waktu yang tak banyak, saya masih menyempatkan menonton drama korea yang saya sukai dan membaca novel serta komik untuk menghilangkan penat. Gotcha! Saya mungkin juga tertangkap basah tidak perhatian dengan blog ini. Hihi. Mianhae.... (re: maaf)
Entah mengapa saya juga belum mendapat inspirasi lagi untuk mempublikasikan sesuatu dalam blog ini T.T Dan kali ini juga saya hanya ingin menyapa para pembaca yang-entah-siapa untuk sekadar memberikan sedikit keluh kesah saya. Sesegera mungkin (jika tidak ada halangan dan ada inspirasi), saya akan membuat cerita atau berbagi cerita lagi.
Nantikan, ya! :)
Selamat menemui mimpi-mimpi indah, selamat beristirahat!
Sunday, July 5, 2015
Terus Bergegas Gagasmedia
Dalam rangka ulang tahun Gagasmedia yang ke-12, Gagasmedia kembali menghadiahkan 12 paket buku lewat Kado Untuk Blogger. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun Gagasmedia!!!! #TerusBergegas. Semoga Gagasmedia menjadi penggagas imajinasi yang gagah dan segar! Sukses untuk Gagasmedia!
Siapa yang tidak ingin mendapat paket buku dari Gagasmedia?? Buku-buku dari Gagasmedia adalah favorit saya sejauh ini. Yang menjadi alasan saya memfavoritkannya adalah buku-bukunya dapat membawa imajinasi saya terbang bebas. Pun kadang menjadi sesuatu yang tak terduga. Mengejutkan. Dari buku-buku itu juga saya dapat belajar bagaimana membuat novel dan mengembangkan pengetahuan saya tentang apa "yang ada" dalam sebuah karya.
Sebagai Blogger (pemula), tentu saya tidak akan melewatkan ini karena siapa tahu saya mendapat buntelan berharga dari Gagasmedia hihihi... Doakan saja semoga saya menjadi salah satunya yang menerima buntelan tersebut. Amin
Segera saya akan menjawab 12 pertanyaan emas dari Gagasmedia
1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!
2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?
Buku yang membuat saya menangis adalah Sabtu Bersama Bapak. Aditya Mulya dapat membuat cerita dalam bukunya benar-benar hidup di benak saya. Bukan menangis karena sedih, mungkin. Tapi menangis karena terharu dan senang. Menangis karena pesan dari Bapak yang disampaikan sangat emosional bagi saya.
3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?
Wah... untuk pertanyaan yang satu ini agak sulit untuk saya karena jika tidak karena saya lupa berarti karena banyak sekali quote-quote menarik dan menginspirasi yang sudah saya dapat dari beberapa buku yang saya baca.
Siapa yang tidak ingin mendapat paket buku dari Gagasmedia?? Buku-buku dari Gagasmedia adalah favorit saya sejauh ini. Yang menjadi alasan saya memfavoritkannya adalah buku-bukunya dapat membawa imajinasi saya terbang bebas. Pun kadang menjadi sesuatu yang tak terduga. Mengejutkan. Dari buku-buku itu juga saya dapat belajar bagaimana membuat novel dan mengembangkan pengetahuan saya tentang apa "yang ada" dalam sebuah karya.
Sebagai Blogger (pemula), tentu saya tidak akan melewatkan ini karena siapa tahu saya mendapat buntelan berharga dari Gagasmedia hihihi... Doakan saja semoga saya menjadi salah satunya yang menerima buntelan tersebut. Amin
Segera saya akan menjawab 12 pertanyaan emas dari Gagasmedia
1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya!
2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis, kenapa?
Buku yang membuat saya menangis adalah Sabtu Bersama Bapak. Aditya Mulya dapat membuat cerita dalam bukunya benar-benar hidup di benak saya. Bukan menangis karena sedih, mungkin. Tapi menangis karena terharu dan senang. Menangis karena pesan dari Bapak yang disampaikan sangat emosional bagi saya.
3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan menginspirasi?
Wah... untuk pertanyaan yang satu ini agak sulit untuk saya karena jika tidak karena saya lupa berarti karena banyak sekali quote-quote menarik dan menginspirasi yang sudah saya dapat dari beberapa buku yang saya baca.
"Masa lalu akan tetap ada, kau tidak perlu
terlalu lama terjebak di dalamnya"
Di atas adalah quote yang paling
saya suka untuk saat ini.
4. Siapakah
tokoh di dalam buku yang ingin kamu pacari? Hayo, berikan alasan kenapa kamu
cocok jadi pasangannya. Hehehe.
Ini
pertanyaan kedua yang membuat saya kesulitan menjawabnya. Tentu saja karena
begitu banyak tokoh yang saya dambakan bisa menjadi pacar saya. Hehehe. Dulu,
ketika ditanya ingin punya pacar seperti apa, yang ada dalam sebuah buku
(novel), saya akan menjawab Keenan. Tokoh lembut, sedikit urakan, pintar
melukis, dan romantis dalam novel Perahu Kertas.
Tetapi,
sejak saya mengenal Julian, koki pastry yang amat-kelewat-seriusnya Afternoon
Tea dalam Walking After You, perasaan saya luluh untuk Julian. Bukan hanya
karena bisa membuat lidah merasakan sensasi dari kue-kue yang dibuat saja, tapi
Julian membuat saya gemas dengan tingkahnya yang malu-malu. Ju, panggilan
singkatnya, juga membuat berdebar-debar dengan perhatiannya yang tak biasa dan
hampir tak kentara. Karena saya orangnya penyemangat dan tidak putus asa
membuat orang yang amat-kelewat-serius untuk tertawa dalam joke saya, sudah
pasti saya cocok menjadi pasangannya Ju. Hihihi. Terlebih lagi, saya menyukai
fotografi yang artinya, Ju membuat kue-kue, saya yang akan mengabadikannya
dalam bingkai foto dan dalam perut saya.. Hihihi..
5. Ceritakan
ending novel yang berkesan dan tak akan kamu lupakan!
Kenapa
pertanyaan-pertanyaan Gagasmedia sulit-sulit untuk dijawab ya? Lebih ke arah
membingungkan. Hahaha. Satu yang menjadi favorit saya yaitu ending yang bahagia
(karena saya sejatinya tidak menyukai ending yang menyedihkan) dan itu muncul
dari Walking After You (lagi). Diceritakan dalam epilognya, tokoh utama pria
tidak mau berbicara dengan tokoh utama wanita karena tokoh utama wanita lupa
untuk menelponnya tetapi ketika tokoh wanita berbicara "aku
merindukanmu", diam-diam tokoh utama pria tersipu malu dan wajahnya
memerah. Menggemaskan.
6. Buku
pertama GagasMedia yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?
Mungkin itu
adalah Ai dari Kak Winna Efendi. Maklum, itu sudah terjadi untuk tahun yang
lama lalu dan daya ingat saya memang payah. Saya tertarik membaca awalnya
karena covernya. Saya jaruh cinta dengan cover boneka kayu jepang dan
sakuranya. Setelah itu saya membaca sinopsis di cover belakang yang membuat
saja penasaran. Sesederhana itu.
7. Dari
sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?
Interlude
milik Mbak Windry Ramadhina. Mungkin juga ini karena saya mengidolakan Mbak
Windry. Sebelum Walking After You, Mbak Windry selalu menggunakan satu kata
yang mewakili bukunya. Menurut saya itu menarik sekali. Karena, dengan satu
kata saja Mbak Windry dapat mewakili cerita dalam novelnya. Itu saya sebut
AJAIB. Interlude sendiri berarti jeda. Pun lucu karena satu kata bisa membuat
kita penasaran dan menerka-nerka apa yang dimaksud di dalam bukunya.
8. Sekarang,
lihat rak bukumu.. cover buku apa yang kamu suka, kenapa?
Saya
menyerahkan ini kepada Walking After You lagi karena covernya yang vintage
tetapi ditambahi dengan kopi dan macaroon warna biru yang cantik. Lucu dan
simple. Terlepas dari setiap unsur biru yang saya suka, mbak Windry memberikan
clue tentang apa yang ada dalam WAY lewat covernya yang cantik. Suka sekali!
9. Tema
cerita apa yang kamu suka, kenapa?
Tidak dapat
dipungkiri lagi bahwa saya menyukai berbagai hal yang berbau percintaan.
Hehehe. Begitu pula untuk tema cerita. Tema cerita percintaan banyak sekali
dipilih oleh penulis-penulis karena mudah. Kesulitannya adalah bagaimana
penulis menuliskan sebuah cerita yang berbeda dari yang sudah-sudah sehingga
dengan mengejutkannya para pembaca tidak dapat menebak apa yang selanjutnya
akan terjadi. Tema percintaan tidak pernah habis untuk dibahas karena selalu
dan akan selalu kita temui dalam kehidupan. Bukan percintaan dalam arti sempit,
seperti kamu dan aku. Tapi juga mencakup percintaan dalam keluarga, teman,
sahabat, dan persaudaraan. Saya selalu tergelitik dalam tema tersebut. Mudah,
tetapi sulit.
10. Siapa penulis yang ingin kamu
temui, kalau sudah bertemu, kamu mau apa?
Jelas saya
ingin menemui banyak sekali penulis di luar sana, entah itu yang lokal maupun
internasional. Tidak hanya sekadar meminta tanda tangan dalam buku mereka yang
sekaligus disematkan kalimat "Salam kenal, Risna" saja. Saya ingin
juga berguru pada mereka dan meminta tips dalam membuat sebuah karya, terutama
novel. Berhubung saya pernah bertemu dengan mbak Windry (walaupun hanya satu
kali), saat ini saya ingin sekali bertemu dengan John Green dan juga Suzanne
Collins. Terdengar mustahil di telinga saya. Memang. Tapi sesuatu yang mustahil
terkadang bisa menjadi sebuah keajaiban. Semoga saja benar-benar keajaiban
suatu saat nanti.
11. Lebih
suka baca e-book (buku digital) atau buku cetak (kertas), kenapa?
Mungkin
sekarang banyak orang yang menyukai e-book karena tidak perlu membawa buku-buku
tebal lagi dan hanya perlu membawa telepon selular yang canggih. Saya memang
setuju dengan pendapat itu. Tapi entah mengapa saya lebih menyukai buku cetak. Saya
merasa buku cetak "berwujud" dibanding e-book. Selain itu, jika saya
memiliki buku cetak, saya lebih merasa seperti itu kesenangan tersendiri untuk
memilikinya apalagi jika itu buku saya sendiri (bukan meminjam). Jadi, jika
ditanya seperti itu, saya menjawab lebih suka buku cetak :)
12. Sebutkan
12 kata untuk GagasMedia menurutmu!
Keren
Banget, Kreatif, Inspiratif, Terbaik, Dan Tidak Pernah Membuat Bosan. Sukses
Selalu! :D
Saturday, June 6, 2015
Seseorang dan Angin
Bertemu pandang untuk waktu yang amat singkat layaknya angin sore berhembus pergi seiring senja hilang. Saat itu kali pertama aku bertemu denganmu dalam detik yang cepat.
Kau duduk di belakang kemudi dengan tampang kusut karena macet di siang bolong. Dalam mobil yang berbeda, aku berpangku tangan di samping kemudi karena hal yang sama. Macet.
Bagi banyak orang, kemacetan adalah peristiwa yang sangat tidak disukai. Bahkan polisi saja lihai beralasan bahwa kemacetan sulit untuk ditanggulangi dan menjadikan mereka hanya diam saja menontonnya.
Mungkin ini kemacetan yang aku suka sepanjang hidupku saat ini. Kemacetan yang biasanya aku salahkan karena membuat jadwal-jadwal yang sudah aku rencanakan menguap begitu saja. Aku menemukan matamu di sela-sela detik yang berlalu. Teramat singkat untuk dikatakan sebuah cinta pada pandangan pertama. Bahkan diam tak diberi kesempatan untuk hadir. Hanya gerak leher beberapa derajat dan mata yang berusaha kita samakan. Tapi otakku sudah mematrinya sebagai hal yang dinamakan tertarik.
Dalam jeda yang singkat itu aku memperhatikanmu. Dan entah mengapa, aku merasa kau juga melakukan hal yang sama walaupun tersisa 86% untuk ketidakyakinan dengan pernyataan itu. Jika memang kita sama-sama bisa memperhatikan satu sama lain -yang berarti 14% dari keyakinanku- jelas anggapanku bahwa kaca mobil di sampingku tidak transparan itu salah.
Yang aku sesali adalah aku bahkan tak diberi kesempatan untuk sekadar menarik sudut-sudut bibirku ke atas. Dan aku tidak tahu siapa kau. Namamu siapa.
Konyol sekali jika aku dengan leluasa menyebutnya cinta pada pandangan pertama karena kau hanyalah lelaki tanpa nama. Lelaki yang muncul seperti angin. Ada saat aku tak memintanya dan juga pergi saat aku tak memintanya. Aku hanya merasakanmu sebentar dan kau menghilang begitu saja. Seperti angin.
Thursday, March 26, 2015
#TakutItuNyata @Bukune
Jujur saja saya orang yang penakut. Tapi setiap saya takut, saya malah penasaran dan mencoba untuk melawan rasa takut itu.
Pernah sewaktu saya mandi di siang hari (ceritanya, saya sedang malas mandi), saya mendengar derap langkah kaki yang cukup keras meski keran air saat itu saya nyalakan lumayan keras. Awalnya saya berpikir bahwa itu mungkin suara kaki ayah yang pulang bekerja untuk makan siang sejenak. Saya cukup biasa saja kali itu. Beberapa kali kembali saya dengar bunyian itu lagi yang semakin membuat saya yakin bahwa itu ayah saya.
Seusai mandi saya melongok ke ruang tamu tetapi tidak ada siapa-siapa. Ternyata saya masih sendirian. Saya mulai merinding tetapi berusaha seperti tidak ada apa-apa (walaupun dalam hati takut sekali).
Karena kantuk mendera, saya tertidur di depan televisi yang tidak menyala. 1 jam kemudian, mungkin, saya terbangun dengan kaget karena suara televisi yang kencang (untuk jarak sedekat saya dengan televisi). Anehnya, masih tidak ada orang di rumah selain saya. Mulai lah hati saya berdebar-debar. Ini bukan karena saya sedang jatuh cinta atau bertemu idola saya. Terlebih lagi saya sendirian dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Ternyata, rasa #TakutItuNyata.
Pernah sewaktu saya mandi di siang hari (ceritanya, saya sedang malas mandi), saya mendengar derap langkah kaki yang cukup keras meski keran air saat itu saya nyalakan lumayan keras. Awalnya saya berpikir bahwa itu mungkin suara kaki ayah yang pulang bekerja untuk makan siang sejenak. Saya cukup biasa saja kali itu. Beberapa kali kembali saya dengar bunyian itu lagi yang semakin membuat saya yakin bahwa itu ayah saya.
Seusai mandi saya melongok ke ruang tamu tetapi tidak ada siapa-siapa. Ternyata saya masih sendirian. Saya mulai merinding tetapi berusaha seperti tidak ada apa-apa (walaupun dalam hati takut sekali).
Karena kantuk mendera, saya tertidur di depan televisi yang tidak menyala. 1 jam kemudian, mungkin, saya terbangun dengan kaget karena suara televisi yang kencang (untuk jarak sedekat saya dengan televisi). Anehnya, masih tidak ada orang di rumah selain saya. Mulai lah hati saya berdebar-debar. Ini bukan karena saya sedang jatuh cinta atau bertemu idola saya. Terlebih lagi saya sendirian dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Ternyata, rasa #TakutItuNyata.
Wednesday, February 4, 2015
The Story of...
Hal yang membuat saya terenyuh sekaligus terharu adalah ketika tadi siang sepulang saya dari kampus.
Ini adalah cerita yang saya alami dan saya rasakan sendiri. Tanpa rekayasa.
Tadi siang saya sedang menunggu mama saya untuk pulang bersama ke rumah. Seperti biasa saya menunggu di depan sekolah tempat mama saya mengajar sambil mendengarkan lagu dari smartphone saya.
Mama datang menghampiri dengan membawa 2 air mineral dingin dan mempersilakan saya menunggu di depan kantor guru. Saya menggiring masuk kendaraan bermotor ke tempat parkir dekat kantor guru. Matahari cukup terik menyinari dan membuat peluh bercucuran. Panas sekali.
Saya duduk di depan kantor guru dengan earphone yang masih menggantung di telinga kanan. Mama meninggalkan saya untuk masuk ke ruang kantor guru karena masih ada yang harus dikerjakan. Saya menjemput terlalu cepat tadi siang. Jam pulang mama lumayan masih lama. Alhasil, saya menunggu (dengan tidak tenang karena didera kantuk) sambil bersandar pada salah satu dinding.
Dari kejauhan tampak saya lihat seorang anak laki-laki berseragam putih abu-abu lengkap dengan topi bergambar tut wuri handayani dan label sekolah di samping topi. Yang membuat terenyuh adalah (maaf) dia tidak dapat berjalan semestinya. Kaki kanan yang terpincang-pincang.
Semakin mendekat, saya baru menyadari bahwa anak tersebut terlihat mengalami (maaf) down syndrome. Dari 4 macam down syndrome yang saya ketahui, apa yang dialami anak tersebut mengarah pada Fragile X Syndrome atau Sindrom kelemahan kromosom X.
Saat ia akan melewati saya, saya menyadari bahwa wajahnya tak asing. Saya tidak ingat kapan kali pertama saya bertemu dia sebelumnya dan siapa namanya. Yang jelas, saya pernah melihat dia sebelumnya.
Dan yang paling penting dengan 'terharu' yang saya maksud di awal adalah ketika dia melihat saya dia tersenyum ke arah saya. Jiwa melankolis saya muncul ke permukaan. Tanpa perlu pikir panjang, saya balas tersenyum ke arahnya. Entah apa yang saya rasakan lainnya, saya hanya merasa senang yang tak dapat diartikan karena apa. Saya tidak ingin mengasihani dia. Dan saya rasa dia dan mereka-mereka yang bernasib demikian juga tidak ingin dikasihani. Pun tak ingin menjadi pusat perhatian karena kekurangan mereka. Bagi saya, dia hebat. Dengan kekurangan yang dia terima, dia masih memiliki rasa semangat yang tinggi untuk bersekolah. Saya meyakini itu karena saya melihat dari matanya, dari gerak tubuhnya. Saya tidak bermaksud untuk sok menjadi psikolog, tapi itu yang saya lihat dan saya yakini sepenuhnya. Satu hal yang saya suka dari orang-orang seperti dia, mereka tetap bersemangat mengejar mimpi dan tidak malu dengan apa yang mereka punya.
Justru saya ingin tahu apa yang mereka rasakan saat berada di tengah-tengah orang normal dengan keterbatasan mereka. Saya ingin mendengar jawaban bahwa, "Saya juga merasa seperti orang normal lainnya", yang keluar dari mulut mereka.
Semakin memikirkan mereka semakin saya sedih. Saya sedih mengapa mereka yang dulunya dilahirkan bagai kertas kosong (tabula rasa) harus mengalami hal semacam ini. Bukan berarti saya ingin mengasihani mereka, bukan. Saya sedih di luar sana banyak yang masih tidak mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Detik itu juga saya ingat untuk bersyukur kembali kepada Tuhan. Bukan bermaksud sombong, semakin dewasa, saya semakin sering ingat untuk bersyukur atas hal-hal, kecil atau besar, yang saya alami setiap hari. Saya bersyukur dilahirkan dengan sebaik-baiknya bentuk manusia. Alhamdulillah...
Saya juga bersyukur kepada Tuhan untuk mereka-mereka yang bersemangat menggapai mimpinya.
Mereka adalah ciptaan Tuhan yang istimewa. Mereka istimewa. Mereka membuat saya terharu sekaligus mengingatkan pada kita jika mereka yang kurang sempurna saja berlaku layaknya manusia normal, kenapa kita masih suka malas dan tidak bersyukur? Patut direnungkan.
Rangkul mereka, mereka bukan untuk dijauhi. Mereka sama dengan kita, sama-sama ciptaanNya.
Di tempat itu saya mengerti bagaimana harus memaknai hidup dan bagaimana bersyukur atas apa yang sudah saya peroleh.
***
Untuk kalian yang menjadikan mimpi bukan sekadar impian dan untuk kalian manusia-manusia istimewa ciptaanNya. Fighting!
Saturday, January 31, 2015
JohnGreen's
True love will triumph in the end - which may or may not be a lie, but if it is a lie, then it's the most beautiful lie we have. - John Green
Thursday, January 29, 2015
Saturday, January 24, 2015
Sabtu Bersama Bapak
![]() |
| Credit by me |
Kantuk adalah rasa yang susah dilawan untuk saya saat ini. Tetapi buku menjadi sesuatu yang dapat melawan rasa kantuk saya selain menulis. Ini adalah buku ketiga yang selesai saya baca di awal bulan tahun 2015. Saya ingin membagi buku ini bersama kalian sebelum mata saya membawa saya terlelap ke alam mimpi.
Di sini banyak pesan tentang bagaimana pendidikan -nilai tentunya- juga penting untuk hidup kita ke depannya. Selain itu, pesan untuk kehidupan rumah tangga juga disampaikan lewat buku ini. Itu pembelajaran paket lengkap. Juga dijelaskan betapa pentingnya momen-momen yang kita lalui bersama orang-orang yang kita sayangi. Menghargai orang lain, menciptakan waktu yang tepat, menyadari kesalahan dan meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan masih banyak yang lain.
Seperti judulnya, hari Sabtu menjadi hari penuh wejangan dan kenangan bersama bapak. Hari Sabtu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari Sabtu adalah hari yang paling menyenangkan bagi tokoh-tokoh dalam buku. Bapak yang masih di samping istri dan kedua anaknya meski raga sudah bersatu dengan tanah. Bapak yang masih bertanggung jawab dalam perkembangan anaknya dan memenuhi tanggung jawab untuk keluarga. Menemani anaknya hingga sang anak menjadi kepala keluarga, sepertinya.
Awalnya saya bingung karena ini buku seperti bukan novel pada umumnya. Atau memang ini bukan novel, saya kurang tahu. Banyak unsur jenaka juga yang membuat saya tertawa atau senyum-senyum sendiri ketika membacanya. Diksinya sederhana. Kata-katanya ringan. Recommended.
- Do you ever finish such a spectacular book and feel like shouting to the entire world how amazing it was? Good books are meant to be shared -
Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya, tentang Bapak, Bu Itje, Satya, dan Cakra.
Thursday, January 22, 2015
Monday, January 19, 2015
Venesia (Part 1)
"Terima kasih, Kak..." kataku sambil meringis kesakitan.
"Sama-sama. Tapi aku harus mengobati lukamu dahulu. Kau tak ingin, kan, terkena tetanus?" katanya sambil tersenyum.
Kak Maestre, kakak tingkatku di kampus. Dia baru saja membuat sisi lembutku
mengepakkan sayapnya di terik matahari yang mulai menyengat.
Bagaimana tidak?
Aku terjerembab ke gundukan tanah yang ternyata memiliki lubang menganga dan saat itu pula kak Maestre menolongku dengan sigap.
Ya Tuhan... ternyata ospek tak seseram yang kubayangkan.
Louisa Annabeth Tjokrokusuman. Panggil saja aku Lou. Aku menempuh akademik baru di Venice University of Photography setelah lulus dari sma swasta di Venesia. Dan sekarang aku sedang mengalami ospek yang menurut persepsiku sebelumnya lebih menyeramkan dibanding bertemu hantu sekalipun.
Sekarang aku sedang berpikir, bagaimana aku menyembunyikan dentuman keras jantungku yang tak kunjung reda?
"Kau yakin tak perlu kubawa ke klinik kampus? Tenang saja, aku bisa memberimu tugas sebagai ganti ospek hari ini." Katanya padaku.
"Aku rasa aku tidak akan limbung hanya karena keseleo dan keadaanku sudah membaik," aku tersenyum.
"Baiklah..." dia memeriksa perbanku, "nah sudah selesai. Ayo, kuantar kembali ke aula."
"Tapi, Kak...." omonganku terputus.
"Untuk kali ini, biarkan aku membantumu tanpa bertanya kesediaanmu, ya," Kak Maestre membantuku berdiri dan memapahku.
***
Matahari menyengat. Aku pulang dengan kaki terseok-seok. Aku berjalan menyusuri dinding-dinding bata merah sepanjang blok Edelweiss.
Seperti biasa, aku mampir di Kedai Marrone Dolce untuk membeli gelato kesukaanku. Kau tahu, berapapun umurmu, kau tidak akan menolak gelato buatan Zia Mere. Berani taruhan!
Panas yang menyengat cocok dengan gelato, pikirku.
Bel berdenting saat aku mendorong pintu masuk kedai. Zia Mere melihat sebentar siapa yang datang dan sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas setelah aku melambai ke arahnya.
Untuk informasi saja, Zia Mere menjadikanku 'pelanggan kesayangan'nya setelah aku memuji gelatonya pada kali kesepuluh aku datang. Itu 4 tahun yang lalu. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada gelato buatannya. Aku tekankan, bu-a-tan-nya.
Untuk informasi saja, Zia Mere menjadikanku 'pelanggan kesayangan'nya setelah aku memuji gelatonya pada kali kesepuluh aku datang. Itu 4 tahun yang lalu. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada gelato buatannya. Aku tekankan, bu-a-tan-nya.
"Seperti biasa, Lou?" Ia bertanya yang aku jawab dengan anggukan.
Dia segera membuatkanku Blu Nuvola Raffreddare. Panjang, ya? Entahlah mengapa Mere, panggilan akrabku kepadanya, memberikan nama untuk gelatonya dengan aneh. Atau mungkin ingin membuat lidah orang asing yang mampir ke kedainya berputar setiap kali menyebut pesanan mereka. Aku tak tahu.
"Bagaimana ospekmu? Kau dikerjai habis-habisan oleh kakak tingkat?" Mere menyerahkan pesananku dengan tangan kiri. Budaya yang berbeda dengan negara kelahiranku. "Atau kau sudah ditaksir seseorang?"
"Tentu saja tidak. Lihat saja perban di kakiku." Aku menunjukkan perban di kaki kananku dengan bangga.
"Oh, astaga. Benar mereka mengerjaimu?" dia tampak melebih-lebihkan keseleoku.
"Mere, nanti akan aku jelaskan. Sekarang berikan aku jeda untuk makan gelatoku," kataku yang dibalas dengan tawa Mere.
Bel berdenting tepat pada suapanku yang kedelapan, jika aku tak salah hitung. Seperti Mere, aku juga menolehkan kepala ke arah pintu masuk kedai.
Detik berikutnya, aku terdiam seperti patung di Madame Tussauds. Aku merasakan wajahku sudah cukup-amat-sangat jelek untuk diikutkan dalam kontes wajah terjelek worldwide versi Animal Planet. Oke, ini berlebihan.
"Kau..........."
- end of part 1 -
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------


















