Saturday, June 6, 2015

Seseorang dan Angin

    
    
       Bertemu pandang untuk waktu yang amat singkat layaknya angin sore berhembus pergi seiring senja hilang. Saat itu kali pertama aku bertemu denganmu dalam detik yang cepat.

       Kau duduk di belakang kemudi dengan tampang kusut karena macet di siang bolong. Dalam mobil yang berbeda, aku berpangku tangan di samping kemudi karena hal yang sama. Macet.

       Bagi banyak orang, kemacetan adalah peristiwa yang sangat tidak disukai. Bahkan polisi saja lihai beralasan bahwa kemacetan sulit untuk ditanggulangi dan menjadikan mereka hanya diam saja menontonnya.

       Mungkin ini kemacetan yang aku suka sepanjang hidupku saat ini. Kemacetan yang biasanya aku salahkan karena membuat jadwal-jadwal yang sudah aku rencanakan menguap begitu saja. Aku menemukan matamu di sela-sela detik yang berlalu. Teramat singkat untuk dikatakan sebuah cinta pada pandangan pertama. Bahkan diam tak diberi kesempatan untuk hadir. Hanya gerak leher beberapa derajat dan mata yang berusaha kita samakan. Tapi otakku sudah mematrinya sebagai hal yang dinamakan tertarik.

       Dalam jeda yang singkat itu aku memperhatikanmu. Dan entah mengapa, aku merasa kau juga melakukan hal yang sama walaupun tersisa 86% untuk ketidakyakinan dengan pernyataan itu. Jika memang kita sama-sama bisa memperhatikan satu sama lain -yang berarti 14% dari keyakinanku-  jelas anggapanku bahwa kaca mobil di sampingku tidak transparan itu salah.

       Yang aku sesali adalah aku bahkan tak diberi kesempatan untuk sekadar menarik sudut-sudut bibirku ke atas. Dan aku tidak tahu siapa kau. Namamu siapa.

       Konyol sekali jika aku dengan leluasa menyebutnya cinta pada pandangan pertama karena kau hanyalah lelaki tanpa nama. Lelaki yang muncul seperti angin. Ada saat aku tak memintanya dan juga pergi saat aku tak memintanya. Aku hanya merasakanmu sebentar dan kau menghilang begitu saja. Seperti angin.

0 comments:

Post a Comment