Thursday, January 28, 2016
Venesia (Part 2)
Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya secepat ini. Sebenarnya aku berharap bertemu lagi di kampus esok hari. Dunia seakan mendorongku menemui takdir lebih cepat.
Aku mematung saat matanya menjurus kepadaku. "Kau....." jari telunjuk tangan kirinya mengarah kepadaku.
"Oh... ha-ha-i, K-kak.." aku tergagap.
"Aku tidak mengira akan bertemu denganmu di sini"
Dia langsung mengisi kursi kosong di depanku. Mataku mengikuti arah matanya pergi.
"Hei! Itu menetes!"
"Ha?" aku kebingungan.
"Itu..." ia menunjuk sesuatu di wajahku. "Gelatomu. Menetes," dia berkata sambil menahan tawa.
Tanganku dengan cepat mengusap bagian yang ditunjuk Kak Maestre dan aku kaget karena melakukan hal bodoh di depannya. "Oh, astaga.."
Begitulah momen pertemuan keduaku dengan Kak Maestre. Benar-benar memalukan. Padahal aku ingin menunjukkan sisi manisku kepadanya.
"Haha. Kau lucu. Apa aku terlihat mempesona sampai kau ngiler-ngiler di depanku begitu?"
"Apa? Jangan bercanda." Tentu saja aku terpesona.
Ditaruhnya kedua tangannya di atas meja, "apa yang kau pesan?" Dia melirik ke arah gelatoku.
"Blu Nuvola Raffreddare."
"Ha? Kau sedang berkumur?" keningnya berkerut.
"Tunggu.. awal bertemu, aku mengira Kakak bukan orang Venesia. Apa aku benar?"
"Ya, aku juga," senyumnya mengembang.
"Maksud, Kakak?"
"Kau juga bukan orang Venesia kan?"
Perkataannya mengejutkanku. Mataku membesar, "bagaimana kau tahu?"
"Dari logatmu tentu saja," dia melambaikan tangan kepada Mere. Mere tersenyum dan berjalan ke arah kami, masih dengan senyum di wajahnya.
Aku tidak peduli jika dia ingin memesan, "Let me guess, Indonesia juga?" dia mengangguk sambil menyebutkan Vainilla Primavera. "Jangan yang itu."
Mere dan Kak Maestre spontan memandangku.
"Kenapa dengan pesananku?"
"Yang cocok dimakan panas-panas begini adalah Caida Fresa. Bawakan itu untuknya, Mere," aku menyuruh Mere tanpa persetujuan dari Kak Maestre.
Kepala Mere mengangguk-angguk dan ia melesat ke dapur. Meracik Caida Fresa pesananku. Untuk Kak Mestre.
Mungkin Kak Maestre bingung mengapa Mere patuh saja kepadaku, sehingga ia bertanya, "padahal aku belum mengiyakan, tapi ia langsung pergi setelah kau suruh." Lelaki itu tertawa lagi.
"Percaya saja, itu pilihan tepat. Aku sudah mencobanya."
"Kau sering kemari? Dan itu tadi...."
"Mere. Panggil saja seperti itu. Gelato buatannya..." aku mengacungkan 2 jempol tanganku di depan wajahnya.
Dia tersenyum. "Oke, kembali ke poin kau dan aku adalah orang Indonesia," tangan kirinya menopang dagu. "Jarang sekali aku bisa bertemu orang Indonesia di sini."
"Aku malah senang bisa kenal orang Indonesia di sini," aku mulai memakai bahasa Indonesia yang santai.
Kami tidak tahu kapan Mere datang membawa pesanan Kak Maestre sampai dia berdeham sambil menaruh pesanan di meja. Anehnya, ada 2 Lava Cake juga.
Seperti tahu aku akan bertanya, ia berkata, "untuk 2 orang dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Gratis."
Spontan kami tertawa.
"Terima kasih... Mere," Kak Maestre mengatakan kata terakhir dengan nada agak takut. Mungkin takut tidak sopan.
Mere terlihat kaget. Tapi detik berikutnya ia tersenyum. "Silakan dinikmati. Panggil aku jika butuh sesuatu," lalu melesat kembali ke balik meja kasir dengan tampang penuh selidik ke arahku.
"Ada apa dengan dia?"
Aku mengangkat bahu, "entahlah, dia memang begitu." Aku menyendok cakeku, "jadi kau punya hobi seperti itu........"
Siang itu, aku menghabiskan waktu dengan bicara banyak hal dengan Kak Maestre sampai hari menjelang senja. Hari yang menyenangkan, yang membuat kami lebih dekat dalam satu hari. Untuk kali pertamanya pula aku senang kakiku terluka.
- end of part 2 -
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------





part 3 kapaaaaaaaaaaaaan ? wkwk
ReplyDeleteDitunggu, ya! Jika ada waktu senggang pasti akan kubuat lanjutannya hehe
Delete