True love will triumph in the end - which may or may not be a lie, but if it is a lie, then it's the most beautiful lie we have. - John Green
Saturday, January 31, 2015
JohnGreen's
Thursday, January 29, 2015
Saturday, January 24, 2015
Sabtu Bersama Bapak
![]() |
| Credit by me |
Kantuk adalah rasa yang susah dilawan untuk saya saat ini. Tetapi buku menjadi sesuatu yang dapat melawan rasa kantuk saya selain menulis. Ini adalah buku ketiga yang selesai saya baca di awal bulan tahun 2015. Saya ingin membagi buku ini bersama kalian sebelum mata saya membawa saya terlelap ke alam mimpi.
Di sini banyak pesan tentang bagaimana pendidikan -nilai tentunya- juga penting untuk hidup kita ke depannya. Selain itu, pesan untuk kehidupan rumah tangga juga disampaikan lewat buku ini. Itu pembelajaran paket lengkap. Juga dijelaskan betapa pentingnya momen-momen yang kita lalui bersama orang-orang yang kita sayangi. Menghargai orang lain, menciptakan waktu yang tepat, menyadari kesalahan dan meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan masih banyak yang lain.
Seperti judulnya, hari Sabtu menjadi hari penuh wejangan dan kenangan bersama bapak. Hari Sabtu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari Sabtu adalah hari yang paling menyenangkan bagi tokoh-tokoh dalam buku. Bapak yang masih di samping istri dan kedua anaknya meski raga sudah bersatu dengan tanah. Bapak yang masih bertanggung jawab dalam perkembangan anaknya dan memenuhi tanggung jawab untuk keluarga. Menemani anaknya hingga sang anak menjadi kepala keluarga, sepertinya.
Awalnya saya bingung karena ini buku seperti bukan novel pada umumnya. Atau memang ini bukan novel, saya kurang tahu. Banyak unsur jenaka juga yang membuat saya tertawa atau senyum-senyum sendiri ketika membacanya. Diksinya sederhana. Kata-katanya ringan. Recommended.
- Do you ever finish such a spectacular book and feel like shouting to the entire world how amazing it was? Good books are meant to be shared -
Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya, tentang Bapak, Bu Itje, Satya, dan Cakra.
Thursday, January 22, 2015
Monday, January 19, 2015
Venesia (Part 1)
"Terima kasih, Kak..." kataku sambil meringis kesakitan.
"Sama-sama. Tapi aku harus mengobati lukamu dahulu. Kau tak ingin, kan, terkena tetanus?" katanya sambil tersenyum.
Kak Maestre, kakak tingkatku di kampus. Dia baru saja membuat sisi lembutku
mengepakkan sayapnya di terik matahari yang mulai menyengat.
Bagaimana tidak?
Aku terjerembab ke gundukan tanah yang ternyata memiliki lubang menganga dan saat itu pula kak Maestre menolongku dengan sigap.
Ya Tuhan... ternyata ospek tak seseram yang kubayangkan.
Louisa Annabeth Tjokrokusuman. Panggil saja aku Lou. Aku menempuh akademik baru di Venice University of Photography setelah lulus dari sma swasta di Venesia. Dan sekarang aku sedang mengalami ospek yang menurut persepsiku sebelumnya lebih menyeramkan dibanding bertemu hantu sekalipun.
Sekarang aku sedang berpikir, bagaimana aku menyembunyikan dentuman keras jantungku yang tak kunjung reda?
"Kau yakin tak perlu kubawa ke klinik kampus? Tenang saja, aku bisa memberimu tugas sebagai ganti ospek hari ini." Katanya padaku.
"Aku rasa aku tidak akan limbung hanya karena keseleo dan keadaanku sudah membaik," aku tersenyum.
"Baiklah..." dia memeriksa perbanku, "nah sudah selesai. Ayo, kuantar kembali ke aula."
"Tapi, Kak...." omonganku terputus.
"Untuk kali ini, biarkan aku membantumu tanpa bertanya kesediaanmu, ya," Kak Maestre membantuku berdiri dan memapahku.
***
Matahari menyengat. Aku pulang dengan kaki terseok-seok. Aku berjalan menyusuri dinding-dinding bata merah sepanjang blok Edelweiss.
Seperti biasa, aku mampir di Kedai Marrone Dolce untuk membeli gelato kesukaanku. Kau tahu, berapapun umurmu, kau tidak akan menolak gelato buatan Zia Mere. Berani taruhan!
Panas yang menyengat cocok dengan gelato, pikirku.
Bel berdenting saat aku mendorong pintu masuk kedai. Zia Mere melihat sebentar siapa yang datang dan sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas setelah aku melambai ke arahnya.
Untuk informasi saja, Zia Mere menjadikanku 'pelanggan kesayangan'nya setelah aku memuji gelatonya pada kali kesepuluh aku datang. Itu 4 tahun yang lalu. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada gelato buatannya. Aku tekankan, bu-a-tan-nya.
Untuk informasi saja, Zia Mere menjadikanku 'pelanggan kesayangan'nya setelah aku memuji gelatonya pada kali kesepuluh aku datang. Itu 4 tahun yang lalu. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada gelato buatannya. Aku tekankan, bu-a-tan-nya.
"Seperti biasa, Lou?" Ia bertanya yang aku jawab dengan anggukan.
Dia segera membuatkanku Blu Nuvola Raffreddare. Panjang, ya? Entahlah mengapa Mere, panggilan akrabku kepadanya, memberikan nama untuk gelatonya dengan aneh. Atau mungkin ingin membuat lidah orang asing yang mampir ke kedainya berputar setiap kali menyebut pesanan mereka. Aku tak tahu.
"Bagaimana ospekmu? Kau dikerjai habis-habisan oleh kakak tingkat?" Mere menyerahkan pesananku dengan tangan kiri. Budaya yang berbeda dengan negara kelahiranku. "Atau kau sudah ditaksir seseorang?"
"Tentu saja tidak. Lihat saja perban di kakiku." Aku menunjukkan perban di kaki kananku dengan bangga.
"Oh, astaga. Benar mereka mengerjaimu?" dia tampak melebih-lebihkan keseleoku.
"Mere, nanti akan aku jelaskan. Sekarang berikan aku jeda untuk makan gelatoku," kataku yang dibalas dengan tawa Mere.
Bel berdenting tepat pada suapanku yang kedelapan, jika aku tak salah hitung. Seperti Mere, aku juga menolehkan kepala ke arah pintu masuk kedai.
Detik berikutnya, aku terdiam seperti patung di Madame Tussauds. Aku merasakan wajahku sudah cukup-amat-sangat jelek untuk diikutkan dalam kontes wajah terjelek worldwide versi Animal Planet. Oke, ini berlebihan.
"Kau..........."
- end of part 1 -
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------













