Monday, March 6, 2017

Kamu

Teruntuk kamu yang hidup sebagai setengah asaku yang kian memudar,

Aku marah tapi gelisah
Aku rindu tapi membeku
Aku diam kamu terdiam

Aku mencari berbagai macam cara untuk berlari maju
Tapi nyatanya kamu tetap di dekatku
Bukan, bukan karena kamu ingin
Bukan, bukan karena kamu melihatku
Tapi, kamu jelmaan dari asa yang masih aku ciptakan
Hidup dari setengah diriku
Sendirian

Aku tahu
Dirimu hanya pemanis hariku
Ketika belum selesai kuucap rindu
Ketika bibir menyesap keluh
Senja datang membawa hadirmu

Berharap kamu enggan pergi
Seperti air dan api bersatu

Kenapa hanya aku yang pada akhirnya akan selalu tiba-tiba senang ketika kamu datang?
Kenapa hanya aku yang tidak rela ketika kamu pergi?
Kenapa hanya aku yang merasa sedikit perhatianmu sangat berharga untuk hidupku beberapa waktu lagi?
Sampai kamu akan datang setelah sekian waktu untuk mengisi energiku yang habis karena merindukanmu

Aku lagi yang akan berharap lebih ketika kamu hadir
Aku juga yang akan kecewa karena itu tidak berarti apa-apa untukmu
Aku lah yang akan selalu siap patah lagi ketika kamu datang sebentar lalu pergi
Aku pula yang akan menyembuhkan lukaku sendiri untuk hidup.


- Untuk kamu yang membawa tawa dan luka secara bersamaan, percayalah bahwa apa yang kamu percaya adalah salah. Aku tidak pernah benar-benar membencimu setelah hal-hal yang telah berlalu. You're perfectly perfect to me. -

Wednesday, June 15, 2016

What's Up?

Aih, sudah lama tidak memposting di blog hehe. Saya belum dapat ide untuk cerita baru atau cerita berseri sampai sekarang :( mungkin karena saya yang malas. Haha.

Oh ya, apa kabar kalian pembaca saya (yang entah siapa)? Berhubung saya bingung untuk membuat tulisan lagi di blog, boleh untuk siapa saja yang ingin memberi saran kepada saya. Bisa jadi itu sangat membantu saya dalam penulisan nantinya.

Dan untuk saat ini saya memutuskan untuk membuat cerita berseri saya yang berjudul Venesia sampai part 5. Mungkin bisa berubah, bisa juga tidak. Tergantung eksekusinya nanti bagaimana. Hehe..

Jadi, kurang 2 part lagi untuk Venesia. Semoga saya dapat menyelesaikannya dengan segera, ya! Bagi yang menantikannya, sabar, yaaaa!

Itu saja yang dapat saya sampaikan kepada pembaca (yang entah siapa). Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan!

Tuesday, March 29, 2016

Venesia (Part 3)


          
Pict from Google.com
           “Oh, tidak! Tidak untuk hari ini!!” Aku tergesa-gesa memasukkan barang-barang ospek ke dalam tas.
            
           Masih hari kedua dan dalam enam menit empat belas detik lagi ospek yang masih tersisa dua hari ke depan akan dimulai. Itu jelas bukan berita baik untuk pagi yang cerah ini.
           
           Jika di negara asalku hukuman untuk keterlambatan datang pada Masa Orientasi Siswa ataupun ospek berkisar antara dimarahi habis-habisan a.k.a dicemooh-hingga mungkin mendapat kata-kata yang tak pantas, dipermalukan di seantero sekolah, sampai membersihkan lingkungan sekolah beberapa hari, aku tidak tahu-belum mencari tahu-hukuman macam apa yang dianut di sini. Apapun itu aku bertekad untuk tidak terlibat didalamnya.
              
            Dan sekarang apa yang aku alami?
             
          Jika saja tadi malam aku tak memikirkan kejadian di Marrone Dolce mungkin aku tak akan terlambat. Jika saja kemarin kami tak bertemu. Jika saja kami tak terlalu asyik berbicara dari Sabang hingga Merauke. Ini berlebihan lagi.
             
            Ah, hanya jika. Aku pasti sudah gila.
             
            Aku benar-benar sudah gila.
            
           Aku harus memutar otak agar tak mencicipi hukuman ospek yang menurut mulut ke mulut lebih menyeramkan dibanding hukuman MOS.
             
          Sambil berlari ke arah kampus yang sebenarnya tidak terlalu jauh-tetapi tidak dengan sisa waktu yang amat sedikit-aku memikirkan alasan apa yang akan aku pakai. Alasan klasik tak akan mempan bagi kakak tingkat panitia ospek. Tentu saja.
             
           Sembelit? Bangun kesiangan? Anak kucingku melahirkan? Memandikan kucingku yang baunya sudah seperti jamban? Atau membantu pak polisi mengatur lalu lintas? Aku mengerutkan kening sambil mengusap titik-titik keringat yang mulai muncul. Tiga calon-alasan terakhir terdengar konyol.
             
         Apa aku terlihat seperti seorang pekerja taman satwa atau seseorang yang suka melakukan pengabdian masyarakat? Pikirku.
             
          Otakku tidak beres. Atau mungkin tertinggal di rumah. Bisa-bisa aku mendapat 2 hukuman sekaligus dengan alasan silly semacam itu.
            
          “Permisi....” Kakiku menapaki jalan sambil mencari celah kosong pada sekumpulan orang. “Maaf.. Permisi.. Maaf, maaf..”
             
            Tas ranselku terguncang-guncang dan menyenggol kardus seorang Bapak berambut setengah botak.
           
            “Hei! Perhatikan langkahmu!”
             
            Dengan tetap berlari aku meminta maaf, “maaf, Pak. Aku buru-buru. Maaf.”

            Damn.

Kenapa pagiku seperti ini? Padahal kemarin menjadi hari yang lumayan menyenangkan. Akan menjadi sangat menyenangkan jika kakiku tidak keseleo. 

Ngomong-ngomong, kakiku sudah baikan meski masih sedikit nyut-nyutan untuk kugunakan berlari. Aku harus mengesampingkannya saat ini.

            Senyumku mengembang tatkala kulihat gerbang universitas yang masih terbuka. Aku bergegas dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Mungkin masih ada kesempatan untuk terhindar dari hukuman.

            Aku semakin mendekati gerbang dan secepat itu pula muncul tiga orang yang mengenakan jas almamater kampusku. Seharusnya aku melihat jam tanganku supaya tidak kecewa karena ternyata aku sudah terlambat dua menit.

            “Bagus sekali, anak baru.” Ujar seseorang dengan Converse abu-abu. Aku terlalu takut hingga tak berani memandang wajah mereka langsung. Kepalaku tertunduk.

“Ma-maaf, Kak..”

“Hei, tatap lawan bicaramu jika sedang bicara!” Terdengar suara perempuan. Pasti suara si Nike pink.

Jujur saja, aku tidak pernah mendapat hukuman selama masa perkenalan lingkungan sekolah baru sebelumnya. Setiap peraturan yang dibuat, dengan sadar aku selalu mematuhinya. Entah itu ada hukuman atau tidak dibaliknya jika dilanggar. Mungkin itu yang membuat aku takut setengah mati karena untuk pertama kalinya aku akan menerima hukuman.

“Bisa-bisanya kau melamun! Terlambat dan melamun,” Converse abu-abu bersuara lagi.

“Aku tidak melamun.”

“Lalu?!” Nike hitam putih menendang kakiku pelan. “Tuli?”

Apa? Beraninya dia.

“Aku baru telat dua menit!” Tiba-tiba saraf-sarafku bergerak sendiri mengangkat kepalaku.

Detik berikutnya aku menyesali apa yang kulakukan. Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tanganku. Mataku membesar tak percaya.

“Lou?”

Aku baru sadar jika yang mendampratku tadi adalah Kak Maestre. Mata kami bertemu. Dua orang lainnya menatap Kak Maestre.

“Kau mengenalnya?” tanya si Nike pink.

“Kemarin aku membantunya saat keseleo.”

Aku tidak menghiraukan pembicaraan mereka. Masih tak percaya jika yang berkata tuli tadi adalah dia. Aku tak pernah suka ketika seseorang berkata kasar dengan membawa kekurangan fisik. Meski mungkin itu hanya candaan.

“Alasanmu?” si Converse abu-abu ternyata bernama Jio-terlihat dari tanda pengenal yang ia kalungkan.

“Maaf?” aku terlihat polos sekali. Jelas saja dia pasti bertanya kenapa aku terlambat.

“Setiap orang yang terlambat pasti mereka punya alasan-biasanya alasan yang dibuat-buat-dan memohon untuk tidak dihukum.”

Bagaimana ia bisa tahu jika aku memikirkan alasan untuk menyelamatkan diri? Pikirku

“Jangan membuang waktu kami!” Tanja, si Nike pink.

Ayo berpikirlah Lou, berpikir.

Hei, apa kau ingin.....”

“Asmaku kambuh.” Jawabku asal. “Asmaku sudah kronis hingga bisa memakan waktu lama untuk menenangkannya-dengan bantuan healer sekalipun.”

Bodoh!

Setelah hanya Jio dan Tanja yang berbicara, Kak Maestre balik bertanya, “Kau punya asma, Lou?”

“Um...” bagaimana ini?

“Apa kau baik-baik saja?” terdengar kecemasan dalam nada bicara Kak Maestre.

“Aku sudah baikan.”

“Apa itu hanya alasan yang kaubuat-buat, ha?!” tanya Tanja dengan tampang penuh selidik.
           
            Memang. “Tentu saja tidak. Aku punya asma sejak kecil.” Oke, semoga alasan ini cukup untuk sementara.
            
           “Baiklah. Karena masalah kesehatan, ini pengecualian.” Kak Maestre memang baik. Walaupun tadi dia menyebutku tuli.
            
           “Terima kasih, Kak. Terima kasih banyak!”
           
           Belum sempat aku melangkahkan kaki menuju aula.....
            
           “Tunggu!” Suara Jio kembali terdengar.
         
        Aku menggigit bibir bagian bawahku. Dengan posisi membelakangi mereka bertiga aku berharap alasanku tadi sudah cukup meyakinkan.
             
           Atau mungkin tidak.
            
          “Bukankah tadi kau berlari dengan semangat sekali?” Jio sepertinya curiga. “Penderita asma tak bisa berlari sesemangat itu, kan?”
            
           Oh, crap.

CSLewis's




pict from google.com


You are never too old to set another goal or to dream a new dream

- CS Lewis Quotes -

Thursday, January 28, 2016

Venesia (Part 2)

 


       Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya secepat ini. Sebenarnya aku berharap bertemu lagi di kampus esok hari. Dunia seakan mendorongku menemui takdir lebih cepat.

      Aku mematung saat matanya menjurus kepadaku. "Kau....." jari telunjuk tangan kirinya mengarah kepadaku.

      "Oh... ha-ha-i, K-kak.." aku tergagap.

      "Aku tidak mengira akan bertemu denganmu di sini"

      Dia langsung mengisi kursi kosong di depanku. Mataku mengikuti arah matanya pergi.

      "Hei! Itu menetes!"

      "Ha?" aku kebingungan.

      "Itu..." ia menunjuk sesuatu di wajahku. "Gelatomu. Menetes," dia berkata sambil menahan tawa.

      Tanganku dengan cepat mengusap bagian yang ditunjuk Kak Maestre dan aku kaget karena melakukan hal bodoh di depannya. "Oh, astaga.."

      Begitulah momen pertemuan keduaku dengan Kak Maestre. Benar-benar memalukan. Padahal aku ingin menunjukkan sisi manisku kepadanya.

      "Haha. Kau lucu. Apa aku terlihat mempesona sampai kau ngiler-ngiler di depanku begitu?"

      "Apa? Jangan bercanda." Tentu saja aku terpesona.

      Ditaruhnya kedua tangannya di atas meja, "apa yang kau pesan?" Dia melirik ke arah gelatoku.

      "Blu Nuvola Raffreddare."

      "Ha? Kau sedang berkumur?" keningnya berkerut.

      "Tunggu.. awal bertemu, aku mengira Kakak bukan orang Venesia. Apa aku benar?"

      "Ya, aku juga," senyumnya mengembang.

      "Maksud, Kakak?"

      "Kau juga bukan orang Venesia kan?"

      Perkataannya mengejutkanku. Mataku membesar, "bagaimana kau tahu?"

      "Dari logatmu tentu saja," dia melambaikan tangan kepada Mere. Mere tersenyum dan berjalan ke arah kami, masih dengan senyum di wajahnya.

      Aku tidak peduli jika dia ingin memesan, "Let me guess, Indonesia juga?" dia mengangguk sambil menyebutkan  Vainilla Primavera. "Jangan yang itu."

      Mere dan Kak Maestre spontan memandangku.

      "Kenapa dengan pesananku?"

      "Yang cocok dimakan panas-panas begini adalah Caida Fresa. Bawakan itu untuknya, Mere," aku menyuruh Mere tanpa persetujuan dari Kak Maestre.

      Kepala Mere mengangguk-angguk dan ia melesat ke dapur. Meracik Caida Fresa pesananku. Untuk Kak Mestre.

      Mungkin Kak Maestre bingung mengapa Mere patuh saja kepadaku, sehingga ia bertanya, "padahal aku belum mengiyakan, tapi ia langsung pergi setelah kau suruh." Lelaki itu tertawa lagi.

      "Percaya saja, itu pilihan tepat. Aku sudah mencobanya."

      "Kau sering kemari? Dan itu tadi...."

      "Mere. Panggil saja seperti itu. Gelato buatannya..." aku mengacungkan 2 jempol tanganku di depan wajahnya.

      Dia tersenyum. "Oke, kembali ke poin kau dan aku adalah orang Indonesia," tangan kirinya menopang dagu. "Jarang sekali aku bisa bertemu orang Indonesia di sini."

      "Aku malah senang bisa kenal orang Indonesia di sini," aku mulai memakai bahasa Indonesia yang santai.

      Kami tidak tahu kapan Mere datang membawa pesanan Kak Maestre sampai dia berdeham sambil menaruh pesanan di meja. Anehnya, ada 2 Lava Cake juga.

      Seperti tahu aku akan bertanya, ia berkata, "untuk 2 orang dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Gratis."

      Spontan kami tertawa.

      "Terima kasih... Mere," Kak Maestre mengatakan kata terakhir dengan nada agak takut. Mungkin takut tidak sopan.

      Mere terlihat kaget. Tapi detik berikutnya ia tersenyum. "Silakan dinikmati. Panggil aku jika butuh sesuatu," lalu melesat kembali ke balik meja kasir dengan tampang penuh selidik ke arahku.

      "Ada apa dengan dia?"

      Aku mengangkat bahu, "entahlah, dia memang begitu." Aku menyendok cakeku, "jadi kau punya hobi seperti itu........"

      Siang itu, aku menghabiskan waktu dengan bicara banyak hal dengan Kak Maestre sampai hari menjelang senja. Hari yang menyenangkan, yang membuat kami lebih dekat dalam satu hari. Untuk kali pertamanya pula aku senang kakiku terluka.


- end of part 2 -

 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tuesday, December 15, 2015

HarukiMurakami's



pict from google.com

"You're not a kid anymore. You have the right to choose your own life. You can start again. It's simple. It's your right." - on twitter: @_harukimurakami

Thursday, November 26, 2015

Halo!


Oh haaaiii pembaca blog saya (yang entah siapa) hehe. Sudah 4 bulan kalau saya tidak salah hitung, saya tidak menyentuh blog lagi. Bukan karena saya sedang tak saling sapa dengan blog ini. Tapi jujur saja, saya sedang banyak tugas di perkuliahan saya yang sudah menginjak semester 3 ini dan juga ada alasan lain...

Fiuh... melelahkan memang. Kalau ada dari kalian para pembaca ingin membantu saya, dengan senang hati saya akan menerimanya :D

Tetapi, di sela-sela waktu yang tak banyak, saya masih menyempatkan menonton drama korea yang saya sukai dan membaca novel serta komik untuk menghilangkan penat. Gotcha! Saya mungkin juga tertangkap basah tidak perhatian dengan blog ini. Hihi. Mianhae.... (re: maaf)

Entah mengapa saya juga belum mendapat inspirasi lagi untuk mempublikasikan sesuatu dalam blog ini T.T Dan kali ini juga saya hanya ingin menyapa para pembaca yang-entah-siapa untuk sekadar memberikan sedikit keluh kesah saya. Sesegera mungkin (jika tidak ada halangan dan ada inspirasi), saya akan membuat cerita atau berbagi cerita lagi.

Nantikan, ya! :)

Selamat menemui mimpi-mimpi indah, selamat beristirahat!