![]() |
| Pict from Google.com |
Masih hari kedua dan dalam enam
menit empat belas detik lagi ospek yang masih tersisa dua hari ke depan akan
dimulai. Itu jelas bukan berita baik untuk pagi yang cerah ini.
Jika di negara asalku hukuman untuk
keterlambatan datang pada Masa Orientasi Siswa ataupun ospek berkisar antara
dimarahi habis-habisan a.k.a dicemooh-hingga mungkin mendapat kata-kata yang tak pantas,
dipermalukan di seantero sekolah, sampai membersihkan lingkungan sekolah
beberapa hari, aku tidak tahu-belum mencari tahu-hukuman macam apa yang dianut di sini. Apapun itu aku bertekad untuk tidak
terlibat didalamnya.
Dan sekarang apa yang aku alami?
Jika saja tadi malam aku tak memikirkan
kejadian di Marrone Dolce mungkin aku tak akan terlambat. Jika saja kemarin
kami tak bertemu. Jika saja kami tak terlalu asyik berbicara dari Sabang hingga
Merauke. Ini berlebihan lagi.
Ah, hanya jika. Aku pasti sudah
gila.
Aku benar-benar sudah gila.
Aku harus memutar otak agar tak
mencicipi hukuman ospek yang menurut mulut ke mulut lebih menyeramkan dibanding
hukuman MOS.
Sambil berlari ke arah kampus yang
sebenarnya tidak terlalu jauh-tetapi tidak dengan sisa waktu yang amat sedikit-aku memikirkan alasan apa yang akan aku pakai. Alasan
klasik tak akan mempan bagi kakak tingkat panitia ospek. Tentu saja.
Sembelit? Bangun kesiangan? Anak
kucingku melahirkan? Memandikan kucingku yang baunya sudah seperti jamban? Atau
membantu pak polisi mengatur lalu lintas? Aku mengerutkan kening sambil
mengusap titik-titik keringat yang mulai muncul. Tiga calon-alasan terakhir
terdengar konyol.
Apa
aku terlihat seperti seorang pekerja taman satwa atau seseorang yang suka
melakukan pengabdian masyarakat? Pikirku.
Otakku tidak beres. Atau mungkin
tertinggal di rumah. Bisa-bisa aku mendapat 2 hukuman sekaligus dengan alasan silly semacam itu.
“Permisi....” Kakiku menapaki jalan
sambil mencari celah kosong pada sekumpulan orang. “Maaf.. Permisi.. Maaf,
maaf..”
Tas ranselku terguncang-guncang dan
menyenggol kardus seorang Bapak berambut setengah botak.
“Hei! Perhatikan langkahmu!”
Dengan tetap berlari aku meminta
maaf, “maaf, Pak. Aku buru-buru. Maaf.”
Damn.
Kenapa pagiku seperti ini? Padahal kemarin menjadi hari
yang lumayan menyenangkan. Akan menjadi sangat menyenangkan jika kakiku tidak
keseleo.
Ngomong-ngomong, kakiku sudah baikan meski masih sedikit
nyut-nyutan untuk kugunakan berlari. Aku harus mengesampingkannya saat ini.
Senyumku mengembang tatkala kulihat gerbang universitas yang masih terbuka. Aku bergegas dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Mungkin masih ada kesempatan untuk terhindar dari hukuman.
Aku semakin mendekati gerbang dan secepat itu pula muncul tiga orang yang mengenakan jas almamater kampusku. Seharusnya aku melihat jam tanganku supaya tidak kecewa karena ternyata aku sudah terlambat dua menit.
“Bagus sekali, anak baru.” Ujar seseorang dengan Converse abu-abu. Aku terlalu takut hingga tak berani memandang wajah mereka langsung. Kepalaku tertunduk.
“Ma-maaf, Kak..”
“Hei, tatap lawan bicaramu jika sedang bicara!” Terdengar
suara perempuan. Pasti suara si Nike pink.
Jujur saja, aku tidak pernah mendapat hukuman selama masa
perkenalan lingkungan sekolah baru sebelumnya. Setiap peraturan yang dibuat,
dengan sadar aku selalu mematuhinya. Entah itu ada hukuman atau tidak
dibaliknya jika dilanggar. Mungkin itu yang membuat aku takut setengah mati
karena untuk pertama kalinya aku akan menerima hukuman.
“Bisa-bisanya kau melamun! Terlambat dan melamun,”
Converse abu-abu bersuara lagi.
“Aku tidak melamun.”
“Lalu?!” Nike hitam putih menendang kakiku pelan. “Tuli?”
Apa? Beraninya
dia.
“Aku baru telat dua menit!” Tiba-tiba saraf-sarafku
bergerak sendiri mengangkat kepalaku.
Detik berikutnya aku menyesali apa yang kulakukan. Aku membekap
mulutku sendiri dengan kedua tanganku. Mataku membesar tak percaya.
“Lou?”
Aku baru sadar jika yang mendampratku tadi adalah Kak
Maestre. Mata kami bertemu. Dua orang lainnya menatap Kak Maestre.
“Kau mengenalnya?” tanya si Nike pink.
“Kemarin aku membantunya saat keseleo.”
Aku tidak menghiraukan pembicaraan mereka. Masih tak
percaya jika yang berkata tuli tadi adalah dia. Aku tak pernah suka ketika
seseorang berkata kasar dengan membawa kekurangan fisik. Meski mungkin itu
hanya candaan.
“Alasanmu?” si Converse abu-abu ternyata bernama Jio-terlihat dari tanda pengenal yang ia kalungkan.
“Maaf?” aku terlihat polos sekali. Jelas saja dia pasti bertanya
kenapa aku terlambat.
“Setiap orang yang terlambat pasti mereka punya alasan-biasanya alasan yang dibuat-buat-dan memohon untuk tidak dihukum.”
Bagaimana ia
bisa tahu jika aku memikirkan alasan untuk menyelamatkan diri? Pikirku
“Jangan membuang waktu kami!” Tanja, si Nike pink.
Ayo
berpikirlah Lou, berpikir.
“Hei, apa kau ingin.....”
“Asmaku kambuh.” Jawabku asal. “Asmaku sudah kronis
hingga bisa memakan waktu lama untuk menenangkannya-dengan bantuan healer sekalipun.”
Bodoh!
Setelah hanya Jio dan Tanja yang berbicara, Kak Maestre
balik bertanya, “Kau punya asma, Lou?”
“Um...” bagaimana
ini?
“Apa kau baik-baik saja?” terdengar kecemasan dalam nada
bicara Kak Maestre.
“Aku sudah baikan.”
“Apa itu hanya alasan yang kaubuat-buat, ha?!” tanya
Tanja dengan tampang penuh selidik.
Memang.
“Tentu saja tidak. Aku punya asma sejak kecil.” Oke, semoga alasan ini cukup
untuk sementara.
“Baiklah. Karena masalah kesehatan, ini
pengecualian.” Kak Maestre memang baik. Walaupun tadi dia menyebutku tuli.
“Terima kasih, Kak. Terima kasih
banyak!”
Belum sempat aku melangkahkan kaki
menuju aula.....
“Tunggu!” Suara Jio kembali
terdengar.
Aku menggigit bibir bagian bawahku.
Dengan posisi membelakangi mereka bertiga aku berharap alasanku tadi sudah cukup
meyakinkan.
Atau mungkin tidak.
“Bukankah tadi kau berlari dengan
semangat sekali?” Jio sepertinya curiga. “Penderita asma tak bisa berlari
sesemangat itu, kan?”
Oh,
crap.










