Tuesday, March 29, 2016

Venesia (Part 3)


          
Pict from Google.com
           “Oh, tidak! Tidak untuk hari ini!!” Aku tergesa-gesa memasukkan barang-barang ospek ke dalam tas.
            
           Masih hari kedua dan dalam enam menit empat belas detik lagi ospek yang masih tersisa dua hari ke depan akan dimulai. Itu jelas bukan berita baik untuk pagi yang cerah ini.
           
           Jika di negara asalku hukuman untuk keterlambatan datang pada Masa Orientasi Siswa ataupun ospek berkisar antara dimarahi habis-habisan a.k.a dicemooh-hingga mungkin mendapat kata-kata yang tak pantas, dipermalukan di seantero sekolah, sampai membersihkan lingkungan sekolah beberapa hari, aku tidak tahu-belum mencari tahu-hukuman macam apa yang dianut di sini. Apapun itu aku bertekad untuk tidak terlibat didalamnya.
              
            Dan sekarang apa yang aku alami?
             
          Jika saja tadi malam aku tak memikirkan kejadian di Marrone Dolce mungkin aku tak akan terlambat. Jika saja kemarin kami tak bertemu. Jika saja kami tak terlalu asyik berbicara dari Sabang hingga Merauke. Ini berlebihan lagi.
             
            Ah, hanya jika. Aku pasti sudah gila.
             
            Aku benar-benar sudah gila.
            
           Aku harus memutar otak agar tak mencicipi hukuman ospek yang menurut mulut ke mulut lebih menyeramkan dibanding hukuman MOS.
             
          Sambil berlari ke arah kampus yang sebenarnya tidak terlalu jauh-tetapi tidak dengan sisa waktu yang amat sedikit-aku memikirkan alasan apa yang akan aku pakai. Alasan klasik tak akan mempan bagi kakak tingkat panitia ospek. Tentu saja.
             
           Sembelit? Bangun kesiangan? Anak kucingku melahirkan? Memandikan kucingku yang baunya sudah seperti jamban? Atau membantu pak polisi mengatur lalu lintas? Aku mengerutkan kening sambil mengusap titik-titik keringat yang mulai muncul. Tiga calon-alasan terakhir terdengar konyol.
             
         Apa aku terlihat seperti seorang pekerja taman satwa atau seseorang yang suka melakukan pengabdian masyarakat? Pikirku.
             
          Otakku tidak beres. Atau mungkin tertinggal di rumah. Bisa-bisa aku mendapat 2 hukuman sekaligus dengan alasan silly semacam itu.
            
          “Permisi....” Kakiku menapaki jalan sambil mencari celah kosong pada sekumpulan orang. “Maaf.. Permisi.. Maaf, maaf..”
             
            Tas ranselku terguncang-guncang dan menyenggol kardus seorang Bapak berambut setengah botak.
           
            “Hei! Perhatikan langkahmu!”
             
            Dengan tetap berlari aku meminta maaf, “maaf, Pak. Aku buru-buru. Maaf.”

            Damn.

Kenapa pagiku seperti ini? Padahal kemarin menjadi hari yang lumayan menyenangkan. Akan menjadi sangat menyenangkan jika kakiku tidak keseleo. 

Ngomong-ngomong, kakiku sudah baikan meski masih sedikit nyut-nyutan untuk kugunakan berlari. Aku harus mengesampingkannya saat ini.

            Senyumku mengembang tatkala kulihat gerbang universitas yang masih terbuka. Aku bergegas dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya. Mungkin masih ada kesempatan untuk terhindar dari hukuman.

            Aku semakin mendekati gerbang dan secepat itu pula muncul tiga orang yang mengenakan jas almamater kampusku. Seharusnya aku melihat jam tanganku supaya tidak kecewa karena ternyata aku sudah terlambat dua menit.

            “Bagus sekali, anak baru.” Ujar seseorang dengan Converse abu-abu. Aku terlalu takut hingga tak berani memandang wajah mereka langsung. Kepalaku tertunduk.

“Ma-maaf, Kak..”

“Hei, tatap lawan bicaramu jika sedang bicara!” Terdengar suara perempuan. Pasti suara si Nike pink.

Jujur saja, aku tidak pernah mendapat hukuman selama masa perkenalan lingkungan sekolah baru sebelumnya. Setiap peraturan yang dibuat, dengan sadar aku selalu mematuhinya. Entah itu ada hukuman atau tidak dibaliknya jika dilanggar. Mungkin itu yang membuat aku takut setengah mati karena untuk pertama kalinya aku akan menerima hukuman.

“Bisa-bisanya kau melamun! Terlambat dan melamun,” Converse abu-abu bersuara lagi.

“Aku tidak melamun.”

“Lalu?!” Nike hitam putih menendang kakiku pelan. “Tuli?”

Apa? Beraninya dia.

“Aku baru telat dua menit!” Tiba-tiba saraf-sarafku bergerak sendiri mengangkat kepalaku.

Detik berikutnya aku menyesali apa yang kulakukan. Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tanganku. Mataku membesar tak percaya.

“Lou?”

Aku baru sadar jika yang mendampratku tadi adalah Kak Maestre. Mata kami bertemu. Dua orang lainnya menatap Kak Maestre.

“Kau mengenalnya?” tanya si Nike pink.

“Kemarin aku membantunya saat keseleo.”

Aku tidak menghiraukan pembicaraan mereka. Masih tak percaya jika yang berkata tuli tadi adalah dia. Aku tak pernah suka ketika seseorang berkata kasar dengan membawa kekurangan fisik. Meski mungkin itu hanya candaan.

“Alasanmu?” si Converse abu-abu ternyata bernama Jio-terlihat dari tanda pengenal yang ia kalungkan.

“Maaf?” aku terlihat polos sekali. Jelas saja dia pasti bertanya kenapa aku terlambat.

“Setiap orang yang terlambat pasti mereka punya alasan-biasanya alasan yang dibuat-buat-dan memohon untuk tidak dihukum.”

Bagaimana ia bisa tahu jika aku memikirkan alasan untuk menyelamatkan diri? Pikirku

“Jangan membuang waktu kami!” Tanja, si Nike pink.

Ayo berpikirlah Lou, berpikir.

Hei, apa kau ingin.....”

“Asmaku kambuh.” Jawabku asal. “Asmaku sudah kronis hingga bisa memakan waktu lama untuk menenangkannya-dengan bantuan healer sekalipun.”

Bodoh!

Setelah hanya Jio dan Tanja yang berbicara, Kak Maestre balik bertanya, “Kau punya asma, Lou?”

“Um...” bagaimana ini?

“Apa kau baik-baik saja?” terdengar kecemasan dalam nada bicara Kak Maestre.

“Aku sudah baikan.”

“Apa itu hanya alasan yang kaubuat-buat, ha?!” tanya Tanja dengan tampang penuh selidik.
           
            Memang. “Tentu saja tidak. Aku punya asma sejak kecil.” Oke, semoga alasan ini cukup untuk sementara.
            
           “Baiklah. Karena masalah kesehatan, ini pengecualian.” Kak Maestre memang baik. Walaupun tadi dia menyebutku tuli.
            
           “Terima kasih, Kak. Terima kasih banyak!”
           
           Belum sempat aku melangkahkan kaki menuju aula.....
            
           “Tunggu!” Suara Jio kembali terdengar.
         
        Aku menggigit bibir bagian bawahku. Dengan posisi membelakangi mereka bertiga aku berharap alasanku tadi sudah cukup meyakinkan.
             
           Atau mungkin tidak.
            
          “Bukankah tadi kau berlari dengan semangat sekali?” Jio sepertinya curiga. “Penderita asma tak bisa berlari sesemangat itu, kan?”
            
           Oh, crap.

CSLewis's




pict from google.com


You are never too old to set another goal or to dream a new dream

- CS Lewis Quotes -