Wednesday, February 4, 2015

The Story of...



Hal yang membuat saya terenyuh sekaligus terharu adalah ketika tadi siang sepulang saya dari kampus.

Ini adalah cerita yang saya alami dan saya rasakan sendiri. Tanpa rekayasa.
Tadi siang saya sedang menunggu mama saya untuk pulang bersama ke rumah. Seperti biasa saya menunggu di depan sekolah tempat mama saya mengajar sambil mendengarkan lagu dari smartphone saya.

Mama datang menghampiri dengan membawa 2 air mineral dingin dan mempersilakan saya menunggu di depan kantor guru. Saya menggiring masuk kendaraan bermotor ke tempat parkir dekat kantor guru. Matahari cukup terik menyinari dan membuat peluh bercucuran. Panas sekali.

Saya duduk di depan kantor guru dengan earphone yang masih menggantung di telinga kanan. Mama meninggalkan saya untuk masuk ke ruang kantor guru karena masih ada yang harus dikerjakan. Saya menjemput terlalu cepat tadi siang. Jam pulang mama lumayan masih lama. Alhasil, saya menunggu (dengan tidak tenang karena didera kantuk) sambil bersandar pada salah satu dinding.

Dari kejauhan tampak saya lihat seorang anak laki-laki berseragam putih abu-abu lengkap dengan topi bergambar tut wuri handayani dan label sekolah di samping topi. Yang membuat terenyuh adalah (maaf) dia tidak dapat berjalan semestinya. Kaki kanan yang terpincang-pincang.

Semakin mendekat, saya baru menyadari bahwa anak tersebut terlihat mengalami (maaf) down syndrome. Dari 4 macam down syndrome yang saya ketahui, apa yang dialami anak tersebut mengarah pada Fragile X Syndrome atau Sindrom kelemahan kromosom X.

Saat ia akan melewati saya, saya menyadari bahwa wajahnya tak asing. Saya tidak ingat kapan kali pertama saya bertemu dia sebelumnya dan siapa namanya. Yang jelas, saya pernah melihat dia sebelumnya.

Dan yang paling penting dengan 'terharu' yang saya maksud di awal adalah ketika dia melihat saya dia tersenyum ke arah saya. Jiwa melankolis saya muncul ke permukaan. Tanpa perlu pikir panjang, saya balas tersenyum ke arahnya. Entah apa yang saya rasakan lainnya, saya hanya merasa senang yang tak dapat diartikan karena apa. Saya tidak ingin mengasihani dia. Dan saya rasa dia dan mereka-mereka yang bernasib demikian juga tidak ingin dikasihani. Pun tak ingin menjadi pusat perhatian karena kekurangan mereka. Bagi saya, dia hebat. Dengan kekurangan yang dia terima, dia masih memiliki rasa semangat yang tinggi untuk bersekolah. Saya meyakini itu karena saya melihat dari matanya, dari gerak tubuhnya. Saya tidak bermaksud untuk sok menjadi psikolog, tapi itu yang saya lihat dan saya yakini sepenuhnya. Satu hal yang saya suka dari orang-orang seperti dia, mereka tetap bersemangat mengejar mimpi dan tidak malu dengan apa yang mereka punya.

Justru saya ingin tahu apa yang mereka rasakan saat berada di tengah-tengah orang normal dengan keterbatasan mereka. Saya ingin mendengar jawaban bahwa, "Saya juga merasa seperti orang normal lainnya", yang keluar dari mulut mereka.

Semakin memikirkan mereka semakin saya sedih. Saya sedih mengapa mereka yang dulunya dilahirkan bagai kertas kosong (tabula rasa) harus mengalami hal semacam ini. Bukan berarti saya ingin mengasihani mereka, bukan. Saya sedih di luar sana banyak yang masih tidak mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Detik itu juga saya ingat untuk bersyukur kembali kepada Tuhan. Bukan bermaksud sombong, semakin dewasa, saya semakin sering ingat untuk bersyukur atas hal-hal, kecil atau besar, yang saya alami setiap hari. Saya bersyukur dilahirkan dengan sebaik-baiknya bentuk manusia. Alhamdulillah...

Saya juga bersyukur kepada Tuhan untuk mereka-mereka yang bersemangat menggapai mimpinya.
Mereka adalah ciptaan Tuhan yang istimewa. Mereka istimewa. Mereka membuat saya terharu sekaligus mengingatkan pada kita jika mereka yang kurang sempurna saja berlaku layaknya manusia normal, kenapa kita masih suka malas dan tidak bersyukur? Patut direnungkan.

Rangkul mereka, mereka bukan untuk dijauhi. Mereka sama dengan kita, sama-sama ciptaanNya.

Di tempat itu saya mengerti bagaimana harus memaknai hidup dan bagaimana bersyukur atas apa yang sudah saya peroleh.


***

Untuk kalian yang menjadikan mimpi bukan sekadar impian dan untuk kalian manusia-manusia istimewa ciptaanNya. Fighting!